Senin, 28 Mei 2012

Benarkah Bung Karno - Mantan presiden Soekarno adalah Seorang Keturunan Yahudi Dunamah?


Patut untuk mencurigai, bahwa Indonesia sebenarnya mengalami nasib yang tak jauh berbeda dengan Amerika Serikat (AS), yakni sudah dicengkeram dengan erat oleh Yahudi melalui Freemasonry dan gerakan Zionis Yahudi Internasionalnya. Hanya saja, jika AS dijadikan sebagai basis pergerakannya untuk menguasai dunia, sehingga negara itu dijadikan yang terhebat, bahkan sangat berpengaruh, Indonesia sebaliknya.  Karena Indonesia hanya satu dari begitu banyak negara di dunia yang mungkin saja hanya dijadikan sebagai lumbung untuk mendapatkan income sebanyak-banyaknya, sehingga dimunkinkan menyimpan bibit manusia unggul sebagai delegasinya dalam  di setiap negara jajahan yang hendak merdeka…maka seperti inilah yang kita alami sekarang; tidak maju-maju, bahkan terpuruk akibat berbagai persoalan yang datang silih berganti, seperti tak ada habisnya, namun tak mampu diselesaikan hingga tuntas oleh pemerintah.  Kasus Freeport merupakan salah satu kasus yang memilukan, karena meski cadangan tembaga yang terkandung di bumi Tembagapura merupakan ketiga terbesar di dunia, dan cadangan emasnya merupakan yang terbesar di dunia, kita nyaris tidak menikmatinya sama sekali, mengingat saham pemerintah hanya 9,32%!
Anda yang belum tahu mungkin terkejut, karena the founding father kita, Soekarno, ternyata juga seorang keturunan Yahudi?. Mengutip dari Dr. Abdullah Tal, seorang peneliti muslim yang menulis artikel berjudul “Al Af’al Yahudiyah Fi Ma’aqalil Islami’ yang diterbitkan Al Maktab Al-Islamy, sebuah media terbitan Beirut, Herry Nurdi dalam buku “Jejak Freemason dan Zionis di Indonesia” menyebut kalau Soekarno adalah keturunan Yahudi dari suku Dunamah, salah satu suku Yahudi yang bermukim di Turki.  Karena itu, Abdullah Tal tak heran ketika Soekarno masih menjadi presiden, dia menerima komunis sebagai orientasi pembangunan negara dengan doktrin Nasakom (Nasionalis, Agama, dan Komunis), dan tak heran pula jika Soekarno memenjarakan sekian banyak kawan seperjuangannya yang berasal dari kalangan Islam, seperti Muhammad Natsir, Dr. Sjahrir, Burhanuddin Harahap, Mohammad Roem, dan lain sebagainya, serta membubarkan Masyumi.

 Sayangnya, Herry tidak mendapatkan sumber pasti tentang silsilah Soekarno, namun berhasil mendapatkan data kalau ayahanda Soekarno merupakan seorang anggota Perkumpulan Theosofi di Surabaya. Karena status ayahandanya inilah Soekarno dapat dengan bebas memasuki perpustakaan Perhimpunan Theosofi di Surabaya, dan membaca koleksi buku-buku di situ. Tentang hal ini, Soekarno pernah berkata ; “Kami mempunyai sebuah perpustakaan yang besar di kota ini (Surabaya) yang diselenggarakan oleh perkumpulan Theosofi. Bapakku seorang Theosof, karena itu aku boleh memasuki peti harta ini, dimana tidak ada batasnya buat seorang yang miskin. Aku menyelam lama sekali di dalam dunia kebatinan ini. Dan di sana aku bertemu dengan orang-orang besar. Buah fikiran mereka menjadi buah fikiranku. Cita-cita mereka adalah pendirian dasarku …”

 Dasar negara Indonesia, Pancasila, termasuk salah satu hasil pemikiran Soekarno yang disampaikan dalam sidang BPUPKI. Ketika pertama kali disampaikan, kelima dasar tersebut adalah kebangsaan Indonesia, Internasionalisme atau perikemanusiaan, mufakat atau demokrasi, kesejahteraan sosial, dan ketuhanan. Ketika menjabarkan tentang nasionalisme dan internasionalisme, Soekarno mengatakan begini ; “Saya mengaku, pada waktu saya berumur 16 tahun, duduk di bangku sekolah H.B.S di Surabaya, saya dipengaruhi seorang sosialis bernama A. Baars, yang memberi pelajaran kepada saya. Katanya, jangan berfaham kebangsaan, tetapi berfahamlah rasa kemanusiaan sedunia. Jangan mempunyai rasa kebangsaan sedikit pun. Itu terjadi pada tahun 17. Tetapi pada tahun 18, alhamdulillah, ada orang lain yang memperingati saya, ialah Dr. Sun Yat Sen! Di dalam tulisannya, “San Min Chu I” atau “The Three People’s Principles”, saya mendapatkan pelajaran yang membongkar kosmopolitanisme yang diajarkan A. Baars itu. Dalam hati saya sejak itu tertanamlah rasa kebangsaan oleh pengaruh “The Three People’s Principles”. Maka oleh karena itu, jikalau seluruh bangsa Tionghoa menganggap Dr. Sun Yat Sen sebagai penganjurnya, yakinlah, bahwa Bung Karno juga seorang Indonesia yang dengan perasaan hormat sehormat-hormatnya merasa berterima kasih kepada Dr. Sun Yat Sen, sampai masuk liang kubur”.

A Baars, menurut Herry Nurdi, berdasarkan penjelasan Soekarno sendiri, adalah seorang penganjur Marxis dan termasuk orang yang kemudian menumbuhkan benih komunisme di Indonesia. Bahkan dia menjadi anggota Partai Komunis Indonesia yang didirikan Semaun dan Darsono. Sedang Dr. Sun Yat Sen adalah tokoh Revolusi Tiongkok dan pendiri Partai Kuomintang. Besar kemungkinan Sun Yat Sen juga seorang Freemasonry Cina yang pada 1912 mendirikan Tiongkok Merdeka, karena seperti yang mungkin juga telah Anda ketahui, bahwa teori komunisme, marxisme, dan sosialisme, dicetuskan oleh Karl Marx, seorang pemikir Yahudi pada abad 18. Dengan komunisme lah, serta dukungan Freemasonry, Lenin berhasil menggulingkan kaisar Rusia, Tsar Nicholas II, melalui revolusi pada Oktober 1917. Yahudi menciptakan komunis untuk menjauhkan manusia dari agama.

 Seorang ilmuwan lulusan Madina University, Abdullah Pattani, pernah secara khusus menelaah lima dasar yang dicetuskan Soekarno, dan menuliskannya menjadi sebuah artikel berjudul ‘Freemasonry di Asia Tenggara’ yang dipublikasikan oleh Madinah Al-Munawarah. Dalam artikel tersebut dinyatakan, bahwa ada kemiripan antara lima dasar tersebut dengan dasar-dasar yang digunakan Zionis sebagai ladasan gerakannya, dan konsep Sun Yat Sen, karena dasar-dasar gerakan Yahudi adalah internasionalisme, nasionalisme, sosialisme, monotheisme cultural, dan demokrasi. Sedang konsep Sun Yat Sen adalah mintsu (nasionalisme), min chuan (demokrasi), dan min sheng (sosialisme). Soekarno sendiri pernah memeras kelima dasar yang dicetuskannya hingga menjadi tiga dasar yang dikenal dengan istilah trisila, yakni sosio nasionalisme atau kebangsaan dan prikemanusiaan, sosio demokrasi yang mencakup demokrasi dan kesejahteraan nasional, dan ketuhanan. Bahkan trisila tersebut pernah diperas lagi hingga hanya menjadi satu sila, yakni gotong royong.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar